🇮🇩 Bahasa Indonesia
Cermin di kamar kosku sudah retak sejak aku pindah. Pemilik kos bilang itu hanya kecelakaan lama, tidak perlu diganti. Aku percaya saja.
Selama tiga bulan, tidak ada yang aneh. Sampai suatu malam aku terbangun pukul tiga dini hari karena merasa ada yang menatapku.
Aku lihat ke cermin.
Bayanganku berdiri di sana. Tapi aku masih berbaring di kasur.
Aku tidak bergerak. Bayangan itu pun tidak. Kami hanya saling menatap, aku dari kasur, ia dari dalam cermin, selama entah berapa lama sampai mataku terlalu berat dan aku tertidur lagi.
Keesokan harinya aku pikir itu hanya mimpi. Tapi ada satu hal yang tidak bisa aku jelaskan.
Retakan di cermin itu, bentuknya sudah berubah. Semalam retakannya horizontal. Sekarang berbentuk seperti senyum.
🇬🇧 English
The mirror in my rented room had been cracked since I moved in. The landlord said it was an old accident, not worth replacing. I believed him.
For three months, nothing strange happened. Until one night I woke at three in the morning with the unmistakable feeling of being watched.
I looked at the mirror.
My reflection was standing up. But I was still lying in bed.
I didn’t move. Neither did it. We stared at each other, me from the mattress, it from inside the glass, for what felt like forever, until my eyes grew too heavy and I drifted back to sleep.
By morning I’d convinced myself it was a dream. But there was one thing I couldn’t explain.
The crack in the mirror, its shape had changed. The night before it ran horizontally. Now it curved upward at both ends.
Like a smile.
