Nero: “Ra, bayangin lo dapet orderan ke tempat yang di peta aja nggak ada.” Rara: “Duh, jangan bilang ini soal Alas Purwo lagi.” Nero: “Bukan cuma soal hutannya, tapi soal apa yang ada di dalamnya saat tengah malam.”
Malam itu, Aris memacu motornya menembus kegelapan Banyuwangi. Sebagai kurir medis, ia terbiasa dengan jadwal aneh, tapi kali ini GPS-nya mengarah jauh ke dalam Hutan Keramat Alas Purwo. Udara malam terasa berat, seolah pepohonan di sana memiliki mata yang mengawasi setiap gerakannya—sebuah kengerian kosmik yang sering dibahas oleh Nessie Judge. Aris mencoba menepis rasa takutnya; dia harus mengantar paket bedah darurat ke “Klinik Cahaya”. Namun, semakin dalam ia masuk, sinyal ponselnya mulai berkedip, menampilkan pesan-pesan aneh dalam bahasa yang tidak ia kenali.
Tiba-tiba, di sebuah tanah lapang, muncul sebuah bangunan megah bergaya kolonial yang tampak seperti klinik modern namun dikelilingi pagar besi tua yang berkarat. Di depannya, seorang perawat dengan seragam putih kusam menunggu dalam diam. Sosok ini mengingatkan pada kisah nyata Bidan Wiwik yang membantu persalinan makhluk bukan manusia. Perawat itu memiliki kulit sepucat porselen dan gerakan yang sangat kaku. “Kami sudah menunggu,” bisiknya. Aris menyerahkan paket itu, namun saat ujung jari mereka bersentuhan, rasa dingin yang tidak wajar merambat ke lengannya—dingin yang hanya berasal dari liang lahat.
Setelah transaksi selesai, Aris segera memutar motornya, terinspirasi dari Cerita Ojol di Bogor yang merekam penampakan saat mengantar paket ke orang yang sudah meninggal. Saat ia mencapai jalan raya dan menoleh ke belakang, klinik megah itu telah lenyap. Yang tersisa hanyalah reruntuhan Pabrik Gula tua yang tertutup akar beringin. Di layar ponselnya, notifikasi pembayaran muncul, namun bukannya angka Rupiah, yang tertera adalah simbol koin Gulden Belanda. Aris menyadari bahwa ia baru saja melintasi batas antara yang hidup dan yang mati di gerbang Alas Purwo.
Translation: The Last Courier of Alas Purwo Aris, a medical courier, is led by his GPS deep into the sacred forest of Alas Purwo. He arrives at a colonial-style clinic where a pale nurse, reminiscent of the Midwife Wiwik legend, awaits him. Upon touching her, he feels a deathly chill. As he escapes back to the main road, his dashcam—similar to the viral Bogor Ojol footage—reveals that the clinic was actually the ruins of an old Sugar Factory. His digital payment appears not as currency, but as ancient Dutch Guilders, proving he had crossed into the spirit realm.
